PROPOSAL
PENELITIAN
PERAN
MAHASISWA DALAM MEWUJUDKAN KAMPUS BERBASIS KONSERVASI MORAL
Disusun
Oleh :
Aditia
Adventa
NIM
: 5301415039
JURUSAN
TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2016
Kata Pengantar
Puji syukur Penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah Nya sehingga Penulis
dapat menyelesaikan makalah “peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus
berbasis konservasi moral” ini sesuai dengan apa yang diinginkan.
Makalah ini disusun untuk
melengkapi tugas PKN, sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Bapak
Natal Kristiono sebagai dosen pengampu PKN. Penelitian ini mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan penelitian ini.
Terlepas dari semua itu, Kami
menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat
maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
penelitian ini.Akhirnya semoga makalah
ini bermanfaat bagi Penulis dan para pembacanya, mohon maaf apabila terdapat
kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Semarang, 31 Mei 2016
Aditia Adventa
Daftar
isi
Kata pengantar............................................................................................. ....................i
Daftar isi...........................................................................................................................ii
Bab I Pendahuluan...........................................................................................................1
1.1 Latar belakang........................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah....................................................................................................2
1.3 Tujuan penelitian......................................................................................................2
Bab II Landasan teori.......................................................................................................3
2.1 Peran Mahasiswa Dalam Mewujudkan Kampus Berbasis Konservasi Moral.............3
2.1.1 Definisi Mahasiswa......................................................................................3
2.1.2 Definisi Perguruan
Tinggi..............................................................................4
2.1.3 Definisi Moral..............................................................................................4
2.1.4 Definisi Konservasi.....................................................................................,5
Bab III Metode Penelitian.................................................................................................6
3.1 Desain Penelitian......................................................................................................6
Bab III Metode Penelitian.................................................................................................6
3.1 Desain Penelitian......................................................................................................6
3.2 Identifikasi
Variabel..................................................................................................6
3.3 Definisi Operasional.................................................................................................6
3.4 Lokasi
Penelitian......................................................................................................7
3.5 Waktu
Penelitian......................................................................................................7
3.6 Populasi Dan
Sampel...............................................................................................7
3.6.1
Populasi........................................................................................................,7
3.6.2
Sampel..........................................................................................................7
3.7 Instrumen
Penelitian.................................................................................................8
3.7.1
Angket..........................................................................................................8
3.8 Teknik Pengumpulan
Data......................................................................................10
3.9 Teknik Analisis Data...............................................................................................11
Bab IV Pembahasan Dan Analisis Data ..........................................................................12
4.1 pengertian kampus berbasis konservasi
moral.........................................................12
4.2 pelaksanaan konservasi moral di UNNES...............................................................13
4.3 peran mahasiswa dalam mengembangkan
konservasi moral di UNNES...................15
4.3.1 mengembangkan karakter
konservasi.............................................................15
4.3.2 memberdayakan Unit Kegiatan
Mahasiswa....................................................19
4.3.3 mementingkan diskusi daripada
demo yang bersifat anarkhis...........................21
4.4 analisis data............................................................................................................22
Bab V Kesimpulan
Dan Saran..........................................................................................29
5.1. Kesimpulan ............................................................................................................29
Daftar pustaka .................................................................................................................30
5.1. Kesimpulan ............................................................................................................29
Daftar pustaka .................................................................................................................30
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Dewasa ini kita ketahui bahwa arus
budaya yang masuk ke indonesia datang dengan berbagai macam corak kebudayaan
yang terkadang tidak ter filter dengan baik. Hal tersebut berdampak buruk terhadap karakter
generasi muda Indonesia, kita ketahui bersama bahwa generasi muda adalah
harapan bagi bangsa indonesia. pernyataan
tersebut akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia apabila
dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, faktanya banyak generasi muda Indonesia saat
ini tidak mempunyai jiwa nasionalisme untuk mencintai kebudayaan Indonesia,
tetapi lebih mencintai kebudayaan asing yang terkadang membawa efek buruk pada
generasi muda Indonesia.
Berbicara tentang generasi muda,
tidaklah lepas kaitannya dengan mahasiswa. Mahasiswa dikenal sebagai kaum
berpendidikan, intelektual dan agent of change. Mahasiswa Indonesia merupakan
generasi muda yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa Indonesia ke
depan. Predikat yang melekat pada mahasiswa indonesia tentu memikili arti dan
makna yang mendalam bagi kemajuan bangsa Indonesia. Namun jika kita melihat
kenyataan bahwa kehidupan mahasiswa di era globalisasi dapat dikatakan cukup
memprihatinkan, banyak mahasiswa jaman sekarang yang mulai acuh dan kurang peka
terhadap lingkungan sosialnya, tidak sedikit pula mahasiswa yang hanya
mengedepankan gengsi dan materi, bersifat boros dan hedonisme, bergaya mewah
dan berlebihan, yang yang lebih parah lagi banyak mahasiswa kurang beretika,
serta tidak mengedepankan tata krama dan sopan santun baik ke sesama
mahasiswa,dosen ataupun terhadap masyarakat yang berada di lingkungan tempat
tinggalnya.
Hal tersebut tentu sangat disayangkan,
maka solusi agar lingkungan kehidupan kampus dapat memberi dampak positif dan
kontribusi dalam pembentukan karakter mahasiswa yang baik dan bertanggung jawab,
perlu diberlakuakannya suatu peraturan dan sistem yang dapat diterima oleh
berbagai kalangan di kampus. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat
dilakukan dengan penanaman nilai-nilai konservasi terutama konservasi moral.
Penanaman nilai-nilai tersebut dapat dilakukan di sekolah, perguruan tinggi,
maupun di masyarakat secara langsung. Misalnya penanaman nilai-nilai konservasi
yang dilakukan di Universitas Negeri Semarang.
Universitas Negeri Semarang merupakan sebuah kampus yang mendeklarasikan
diri sebagai Universitas Konservasi pada februari 2010, hal terseut dimotori
oleh rektor UNNES saat itu Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si. yang
kemudian menetapkan 11 nilai karakter konservasi. Diantaranya adalah religius, jujur,
cerdas, adil, tanggung jawab, peduli, toleran, demokratis, cinta tanah
air, tangguh, dan santun. Sebagai universitas yang berlandaskan
konservasi, UNNES tidak hanya mengembangkan dan menciptakan konservasi
lingkungan tetapi juga dituntut untuk bisa mengembangkan dan menciptakan
konservasi moral.terutama di kalangan mahasiswa.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Berasarkan
latar belakang diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah
yang dimaksud dengan kampus berbasis konservasi moral ?
2. Bagaimana
pelaksanaan konservasi moral di UNNES ?
3. Bagaimana
peran mahasiswa untuk mengembangkan konservasi moral di
UNNES ?
1.3.TUJUAN
PENELITIAN
1. Untuk
mengetahui pengertian dari konservasi moral
2. Untuk
mengetahui pelaksanaan konservasi moral di UNNES
3. Untuk
mengetahui peran mahasiswa dalam melaksanakan dan mengembangkan konservasi
moral di UNNES
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1
Peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus berbasis konservasi moral
2.1.1 Definisi Mahasiswa
Mahasiswa
adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut
atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat
disebut sebagai mahasiswa.
Menurut
(Nurhayati, 2011: 50) mahasiswa merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang
menjalani masa perkuliahan di sebuah universitas atau perguruan tinggi.
Mahasiswa mempunyai umur rata-rata sekitar 18-21 tahun. Ditinjau dari segi
psikologi mahasiswa berada pada fase remaja akhir dan dewasa awal.
Yusuf
& Nani M. Sugandhi (2011: 119) mengatakan bahwa berdasarkan fase
perkembangan peran, tugas, dan tanggung jawab mahasiswa tidak hanya tentang
pencapaian kesuksesan secara akademik. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan
perilaku dan pribadi untuk mengeksplorasi berbagai gaya hidup dan nilai sosial
selain kesuksesan secara akademik.
Menurut
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Mahasiswa adalah seseorang yang
belajar di perguruan tinggi, di dalam struktur pendidikan di Indonesia
mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi diantara yang lain.
Menurut
Knopfemacher Mahasiswa adalah seseorang calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan
perguruan tinggi yang didik dan diharapkan untuk menjadi calon-calon yang
intelektual.
Menurut
Sarwono Mahasiswa
adalah setiap orang yang secara terdaftar untuk mengikuti pelajaran disebuah
perguruan tinggi dengan batasan umur sekitar 18 – 30 tahun. Mahasiswa merupakan
suatu kelompok dalam masyarakat yang memperolehstatusnya, karena adanya ikatan
dengan suatu perguruan tinggi
2.1.2 Definisi Perguruan Tinggi
Atau Kampus
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara
pendidikan tinggi. Peserta didik
perguruan tinggi disebut
mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan
tinggi disebut dosen. Dan menurut beberapa undang undang Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan
menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan
kesenian (UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat (1)). Pendidikan tinggi adalah
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pada pendidikan menegah di jalur
pendidikan sekolah (PP 30 Tahun 1990, pasal 1 Ayat (1)
2.1.3 Definisi Moral
2.1.3 Definisi Moral
Moral, Secara etimologis istilah
moral berasal dari Bahasa Latin mos dan
jamaknya adalah mores yang berarti adat isitiadat atau kebiasaan.
Pengertian tersebut mirip dengan kata ethos dari Bahasa Yunani, yang
kemudian dikenal dengan etik. Yang terakhir ini pun mempunyai arti adat
istiadat atau kebiasaan (Poespoprodjo, 1996). Ada pula kata lain yang mempunyai
arti yang sama yaitu Akhlaq (Bahasa Arab), yang berasal dari kata khalaqa
(khuluqun) yang berarti tabi’at, adat istiadat, atau kholqun yanng
berarti kejadian atau ciptaan. Jadi akhlak ini merupakan perangai atau sistim
perilaku yang dibuat, dan oleh karena itu keberadaannya bisa baik dan bisa pula
jelek, tergantung pada tata nilai yang dijadikan rujukannya ( Daradjat, 2004).
Menurut K. Prent (Soenarjati, 1989:
25) moral berasal dari bahasa latin mores, dari suku kata mos yang artinya adat
istiadat, kelakuan, watak, tabiat, akhlak. Dalam perkembangannya moral
diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik, yang susila. Dari
pengertian tersebut dinyatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan.
Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkahlaku
sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada. Sebaliknya jika perilaku individu
itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada, maka ia akan dikatakan jelek
secara moral.
Moral secara ekplisit
adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral
manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang
mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap
amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan
di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati
oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat
secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat
setempat.
Menurut beberapa ahli moral
adalah W. J. S. Poerdarminta menyatakan bahwa moral merupakan
ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan kelakuan. Dewey mengatakan
bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila. Baron
dkk. Mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan
larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Magnis-Suseno
mengatakan bahwa moral selalu mengacu pada pada baik buruknya manusia sebagai
manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari
segi kebaikannya sebagai manusia.
2.1.4 Definisi Konservasi
Konsep
konservasi pertama kali dikemukakan oleh Theodore Roosevelt pada tahun 1902, Menurut F.D
Roosevelt, konservasi adalah mengenai segala upaya kita dalam hal pemeliharaan
secara bijaksana. Tidak semata hanya konservasi dalam pelestarian lingkungan,
tapi juga konservasi nilai dan moral. Sebab, dari konservasi moral yang
dibangun dapat memengaruhi kepribadian bangsa. berasal dari kata Conservation yang terdiri
atas kata con (together) dan servare (keep/save)
yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save
what you have), namun secara bijaksana (wise use)
Sedangkan
menurut beberapa ahli Richmond and Alison Bracker (ed) (2009) mengartikan
konservasi sebagai suatu proses kompleks dan terus-menerus yang melibatkan
penentuan mengenai apa yang dipandang sebagai warisan, bagaimana ia dijaga,
bagaimana ia digunakan, oleh siapa, dan untuk siapa. Norton (2004) mengartikan
konservasi (biologi) sebagai suatu penyesuaian mekanisme alam untuk kepentingan
dan tujuan sosial konservasi dimaknai sebagai tindakan untuk melakukan
perlindungan atau pengawetan; sebuah kegiatan untuk melestarikan sesuatu dari
kerusakan, kehancuran, kehilangan, dan sebagainya (Margareta, et al. 2010).
IUCN
(2007) mengartikan konservasi sebagai manajemen udara, air, tanah, mineral ke
organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan
manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai,
penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1. Desain
Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi
jurusan teknik elektro universitas negeri semarang.
Pada penelitian ini pengumpulan data
juga dilakukan dengan menggunakan kuesioner dimana yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuesioner minat belajar dan keikutsertaan bimbingan
belajar. Kuesioner tersebut berisi identitas subjek yang terdiri dari nama, prodi.
Selain itu, kuesioner tersebut juga berisi tentang pertanyaan yang menyangkut
peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus berbasis konservasi moral. Pertanyaan
ini disusun berdasarkan permasalahan yang menyangkut moral mahasiwa, yaitu:
apakah mahasiswa pernah menyontek, apakah pernah menggunakan surat ijin palsu
untuk membolos kuliah, apakah pernah terlibat dalam pemerasan, pengancaman dan
pencurian didalam kelas, apakah pernah berkelahi di lingkungan kampus, apakah
anda menghargai hasil karya orang lain,apakah anda pernah merusak fasilitas
kampus, dan beberapa pertanyaan yang menyangkut dengan moralitas mahasiswa yang
mempunyai peran untuk mewujudkan kampus berbasis konservasi moral.
3.2. Identifikasi variabel
Dari judul penelitian “
peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus berbasis konservasi moral”, jenis
variabel yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a.
Variabel bebas : Mahasiswa
b.
Variabel terikat : kampus berbasis konservasi moral
3.3.
Definisi operasional
Mahasiswa
adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut
atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat
disebut sebagai mahasiswa.
Kampus
berbasis konservasi moral adalah bertujuan mewujudkan suasana kampus yang
memiliki tujuan untuk memelihara, melindungi dan menciptakan moral yang baik
bagi para kadernya yaitu para mahasiswa.
3.4. Lokasi
Penelitian
Penelitian
tentang peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus berbasis konservasi moral
dilakukan di Universitas Negeri Semarang.
3.5. Waktu
Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan kurang lebih selama satu bulan, yaitu bulan mei
2016 dimulai dari minggu pertama bulan mei sampai 31 mei. Desain penelitian dengan
pendekatan kuantitatif memberikan keuntungan pada kecepatan pengumpulan data.
Hal ini dimanfaatkan peneliti agar dapat berfokus melaksanakannya dalam waktu
yang seefisien mungkin.
3.6.Populasi dan Sampel
3.6.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karasteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Populasi menggambarkan berbagai
karakteristik subjek penelitian untuk kemudian menentukan pengambilan sampel. Berdasarkan
pemahaman tersebut, maka penentuan populasi dalam penelitian ini adalah
mahasiswa-mahasiswi jurusan teknik elektro universitas negeri semarang.
Mahasiswa-Mahasiswi jurusan teknik
elektro Universitas Negeri Semarang tersebut menjadi populasi dalam penelitian
ini namun tidak akan dipakai semuanya dalam penelitian ini mengingat minimnya
waktu dan biaya peneliti oleh karena karena itu dipergunakan teknik sampling
yang sesuai dengan kemampuan peneliti.
3.6.2 .
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi
dalam penelitian. Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu
daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling. Teknik penelitian ini
dimaksudkan agar peneliti lebih mudah dalam pengambilan data. Data tersebut
diperbolehkan untuk digunakan sebagai refleksi keadaan populasi secara
keseluruhan. Teknik pengambilan sampling pada penelitian ini adalah menggunakan
simple random sampling. Teknik samplig ini dipandang peneliti dapat
mempermudah pemilihan sampel secara acak namun atas dasar acuan tertentu. Acuan
yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan memilih secara acak dari
daftar populasi yang diteliti yakni mahasiswa jurusan teknik elektro
Universitas Negeri Semarang. Penggunaan
formula empiris dipergunakan dalam menentukan subjek penelitian. Sampel dari
penelitian ini adalah mahasiswa jurusan teknik elektro Universitas Negeri
Semarang, peneliti hanya mengambil 25 orang sampel dari 3 rombel angkatan 2015.
3.7. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat atau fasilitas yang digunakan
peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah lembar angket kuesioner. Lembar angket kuesioner adalah lembar angket
kepada subjek atau responden sesuai dengan tujuan penelitian. Tujuan dari
pembuatan kuesioner ini adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan
reliabilitas dan validitas setinggi mungkin serta memperoleh informasi yang
relevan.
Bentuk item kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah item
kuesioner tertutup dimana pertanyaan yang dicantumkan telah disesuaikan oleh
peneliti. Alternatif jawaban yang disediakan bergantung pada pemilihan peneliti
sehingga responden hanya bisa memilih jawaban yang mendekati pilihan paling
tepat dengan yang dialaminya. Kuesioner penelitian tertutup memiliki prinsip
yang efektif jika dilihat dengan sudut pandang peneliti sehingga jawaban
responden dapat disesuaikan dengan kebutuhan
3.7.1 Angket
Petunjuk
Pengisian Angket
- Isilah angket di bawah ini !
- Bacalah dengan teliti sebelum menjawab !
- Beri tanda ( √ ) pada kolom pilihan yang sudah disediakan sesuai dengan pendapat kamu !
- Tulis nama,kelas dan tanda tangan pada lembar jawab !
- Pada pertanyaan ada 4 ( empat ) pilihan,keterangan di bawah ini :
a.
Sering
= ( SR
)
c.
Selalu
= ( SL )
b. Kadang-Kadang = (
KD)
d. Tidak Pernah = (
TP )
- Jujurlah dalam menjawab tiap-tiap pertanyaan yang diberikan !
- Jangan memberi coretan lain selain dikolom angket !
- Selamat mengerjakan !
Nama
:
Prodi :
Tanda tangan :
Peran
Mahasiswa Dalam Mewujudkan Kampus Berbasis Konservasi Moral
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
1.
|
Apakah orang tua mu pernah memberikan nasehat?
|
||||
2.
|
Apakah
sering membantah/melawan ketika orangtua mu memberikan nasehat?
|
||||
3.
|
Apakah lingkungan
sekitar mempengaruhi sikapmu?
|
||||
4.
|
Apakah orang tua mu selalu
memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya?
|
||||
5.
|
Apakah kamu pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan dirumah ataupun
disekolah?
|
||||
6.
|
Apa bila
dimarahi orangtua saya diam saja?
|
||||
7.
|
Apakah
teman sebayamu mempengaruhi perilaku dalam kepribadianmu?
|
||||
8.
|
Apakah kamu pernah melakukan kesalahan kepada temanmu dalam pergaulan sehari hari?
|
||||
9.
|
Dalam
menghadapi masalah apakah kamu melakukannya dengan perasaan emosi?
|
||||
10.
|
Apakah
kamu selalu memberikan contoh yang baik kepada temanmu?
|
||||
11.
|
Jika kamu salah pernahkah kamu langsung meminta maaf?
|
||||
12.
|
Jika ada tawaran dari teman mu apakah kamu ikut denganya walaupun itu buruk?
|
||||
13.
|
Apakah
anda belajar jika dirumah atau di kos ?
|
||||
14.
|
Apakah bila
kebutuhan kamu terpenuhi, kamu merasakan kenyamanan?
|
||||
15.
|
Apakah kamu pernah melakukan perbuatan anarkis (merusak atau
menganiaya)?
|
||||
16.
|
Saya
bersikap sopan santun kepada orang yang usianya lebih tua dari saya?
|
||||
17.
|
Saya tidak
pernah menghiraukan, apabila ada orang yang menegur tentang sikap dan prilaku
saya?
|
||||
18.
|
Saya
menyapa apabila bertemu dengan dosen di kampus?
|
||||
19.
|
Apakah kamu suka bersosialisasi dirumah,di kampus ataupun di masyarakat?
|
||||
20.
|
Apabila
ada masalah, saya pergi dari rumah tanpa pamit?
|
||||
21
|
Apakah kamu Terlibat dalam pemerasan, pengancaman
dan pencurian di lingkungan kampus?
|
||||
22
|
Apakah kamu Membuat surat izin palsu untuk bolos
kuliah?
|
||||
23
|
Apakah anda Merusak fasilitas kampus ?
|
||||
24
|
Apakah anda Berurusan dengan senjata tajam, minuman keras dan narkoba
di lingkungan kampus?
|
||||
25
|
Apakah anda tidak pernah
menghiraukan, apabila ada orang yang menegur tentang sikap dan prilaku
anda
|
||||
26
|
Apakah anda menghargai apapun hasil karya orang lain..
|
||||
27
|
Apakah anda sering membicarakan hal negatif dari dosen ataupun mahasiswa
lain
|
||||
28
|
Apakah anda hanya copy paste apabila ada tugas ?
|
||||
29
|
Apakah anda mengeluh jika diberikan tugas oleh dosen ?
|
||||
30
|
Apakah apabila dosen tidak masuk anda belajar mandiri di kelas ?
|
3.8.Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif Subjek dalam penelitian
ini adalah Mahasiswa-Mahasiswi jurusan teknik elektro Universitas Negeri
Semarang. Pada penelitian ini pengumpulan data juga dilakukan dengan
menggunakan angket kuesioner dimana yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner peran mahasiswa dalam mewujudkan kampus berbasis konservasi moral.
Angket kuesioner tersebut berisi identitas subjek yang terdiri dari nama, prodi
pada pengisian kuesioner tersebut. Karena banyaknya responden dalam penelitian
ini, maka angket yang digunakan adalah angket tertutup, sehingga responden
hanya memilih jawaban yang telah disediakan.
3.9. Teknik Analisis Data
Teknik
menganalisis data yang sudah diperoleh menggunakan analisis statistik
inferensial. Statistik inferensial ini adalah cara menganalisis yang datanya
berasal dari sampel yang mewakili populasi, statistik inferensial digunakan
untuk menganalisis data yang terdiri dari dua variabel atau lebih. Jenis
statistik inferensial yang digunakan adalah uji hubungan/uji korelasi. Uji
hubungan/uji korelasi bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua
variabel. Uji korelasi yang digunakan adalah milik Karl Pearson, yang biasa
disebut dengan The Product Moment
Coefficient Correlation.
Kuat lemah hubungan antara dua
variabel diukur menggunakan jarak 0 sampai dengan 1. Jika koefisien korelasi
ditemukan +1, maka hubungan tersebut disebut dengan korelasi sempurna atau
hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) positif. Sebaliknya, jika
koefisien korelasi ditemukan -1, maka hubungan tersebut disebut dengan korelasi
sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif. Jika
terdapat korelasi sempurna tidak perlu lagi menguji signifikansi antar dua
variabel, karena dua variabel diartikan memiliki hubungan yang sangat kuat.
Untuk
memudahkan menginterpretasikan data yang diperoleh, Sarwono memberikan kriteria
sebagai berikut:
1. Koefisien
korelasi 0 = tidak ada korelasi antara dua
variabel.
2. Koefisien
korelasi 0 – 0,25 = korelasi sangat
lemah.
3. Koefisien
korelasi 0,25 – 0,5 = korelasi cukup.
4. Koefisien
korelasi 0,5 – 0,75 = korelasi kuat
5. Koefisen
korelasi 0,75 – 0,99 = korelasi sangat
kuat.
6. Koefisien
korelasi 1 = korelasi sempurna
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1. Pengertian
Kampus Berbasis Konservasi Moral
Dimulai dengan Universitaas Negeri Semarang
(UNNES) yang mendeklarasikan dirinya sebagai Universitas Konservasi pada
tanggal 12 Maret 2010 yang diepelopori oleh Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo
dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh.
dengan deklarasi itu diharapkan seluruh warga Unnes memiliki kepedulian ,
menjunjung tinggi prinsip perlindungan terhadap lingkungan seperti menjaga,
merawat dan menempatkan konservasi disegala aspek kehidupan sehingga selaras
dengan visi Unnes yaitu “Menjadi universitas konservasi ,bertaraf internasional
yang sehat unngul dan sejahtera pada tahun 2020”.
Kemudian 15
Juni 2015 dimotori oleh Unit kegiatan kerohanian islam (UKKI) muncul istilah
konservasi moral, dimana istilah tersebut muncul akibat adanya kegelisahan di
lingkungan kampus, karena konservasi bukan hanya tentang relasi manusia dengan
lingkungan tetapi bagaimana konservasi tersebut dapat menciptakan manusia yang
bermoral dan tetap mencintai lingkungan.
Konservasi
moral sendiri merupakan usaha untuk menciptakan kader-kader lingkungan yang mempunyai
moral baik, sedangkan kampus berbasis konservasi moral merupakan sebuah lembaga
pendidikan yang mempunyai tugas untuk menciptakan kader-kader yang cinta
lingkungan dan moral yang baik. Kampus ini merupakan kampus yang menjadi solusi
dari permasalahan yang timbul di masyarakat tentang penurunan moral di
lingkungan mahasiswa, kita ketahui bahwa mahasiswa saat ini telah mengalami
penurunan moral yang sangat buruk, contohnya kasus pembunuhan terhadap dosen di
Makassar akibat masalah skripsi, tentunya dari masalah tersebut terjadinya
penurunan moral di kalangan mahasiswa menjadi kabar buruk bagi bangsa kita
karena di pundak mahasiswa nasib bangsa dan negara dipertaruhkan. Mahasiswa
juga memiliki beberapa fungsi yang disematkan oleh masyarakat yaitu sebagai
agent of change, moral force dan social control, tentunya kita tidak ingin
generasi penerus bangsa mempunyai sikap koruptif dan sewenang-wenang, maka dari
itu perlu sebuah lembaga pendidikan dimana lembaga tersebut mencoba menciptakan
dan melindungi dan menjaga moral baik para mahasiswa. Lembaga pendidikan
tersebut juga harus mempunyai sistem pendidikan yang mendukung terciptanya
konservasi moral di lingkungan mahasiswa, misalnya seperti program keagamaan
karena moral berkaitan erat dengan agama, personality school yang berguna untuk
membangun karakter pada diri sendiri, pembentukan ukm yang dapat mengembangkan
moral bagi mahasiswa, dan tentunya perlu dimasukkan mata kuliah pengembangan
moral.
Selain
program-program diatas tentunya mahasiswa perlu adanya contoh dan teladan
misalnya dosen yang juga harus ikut berperan aktif dalam pengembangan moral
mahasiswa, karena dosen pada akhirnya akan menjadi teladan bagi para
mahasiswanya. Tentu kita tidak mau ada dosen yang memiliki perilaku yang buruk
seperti suka memarahi mahasiswa tanpa alasan, budaya telat dan tidak masuk
kuliah hanya karena ada kepentingan pribadi, sering mencaci maki mahasiswa
didepan orang lain, sikap merendahkan orang lain, apatis dan acuh tak acuh,
sombong dan merasa dirinya paling benar. Tentu kita tidak mau memiliki dosen
yang seperti ada dalam gambaran tersebut, tetapi kita pasti setuju bahwa dosen
yang diperlukan mahasiswa adalah dosen yang bermoral dan beretika baik.
Sebuah
lembaga pendidikan seperti universitas, akademi maupun sekolah tinggi tentunya
ingin menghasilkan mahasiswa yang cerdas dan membanggakan, tapi apalah arti
dari sebuah kepintaran, tanpa adanya moralitas yang baik, tentunya sama seperti
mencetak pejabat yang memiliki kebiasaan korupsi. Moral yang baik harus
dimiliki oleh setiap mahasiswa dan tentunya moral baik diciptakan melalui
lembaga pendidikan seperti universitas, akademi maupun sekolah tinggi. Pedoman
kampus berbasis konservasi moral harus ada di setiap universitas, akademi
maupun sekolah tinggi di Indonesia karena dengan prinsip konservasi, moral akan
dapat dibentuk, diciptakan dan dilindungi serta dijaga, supaya generasi muda
khususnya mahasiswa dapat menjalankan fungsinya sebagai agen perubahan dan
sebagai moral force (kekuatan moral) yang berguna untuk menyuarakan hati nurani
masyarakat.
4.2 Pelaksanaan Konservasi Moral Di Unnes
UNNES sebagai universitas yang
mendeklarasikan dirinya sebagai Universitas Konservasi dan menetapkan 11
nilai-nilai karakter konservasi sudah seyogyanya untuk mengimplementasikan
nilai-nilai karakter konservasi di lingkungan kampus. Tidak hanya konservasi
lingkungan saja melainkan juga konservasi moral. Hal itu sebagai konsekuensi
dari Unnes sebagai universitas konservasi.
Di kalangan mahasiswa Universitas
Negeri Semarang, istilah konservasi moral telah menjadi bagian dari kehidupan
di kampus. Istilah ini dideklarasikan atas prakarsa yang dimotori oleh Unit
Kegiatan Kerokhanian Islam (UKKI), dengan didukung oleh rokhis-rokhis seluruh
fakultas di lingkungan UNNES. Deklarasi moral ini dilakukan dalam musyawarah
akbar UKKI bulan Juni 2010. Deklarasi ini merupakan break down dari
spirit Unnes sebagai universitas konservasi, yang dideklarasikan oleh Prof. Dr.
Sudijono Sastroatmodjo, di bulan Februari 2010.
Pada saat gegap gempita deklarasi
konservasi, yang berawal mula dari relasi manusia dengan lingkungan alam, maka
mahasiswa pun tidak mau ketinggalan untuk mengambil bagian penting dan
monumental dengan mendeklarasikan konservasi moral. Konservasi moral
dideklarasikan pada hari minggu tanggal 15 Juni 2010 Jam 10.00 WIB bertempat di
aula FBS Universitas Negeri Semarang, hanya berselang tiga bulan dari
deklarasi Unnes sebagai universitas konservasi.
Deklarasi konservasi moral ini menghasilkan
sebuah piagam konservasi moral. Piagam konservasi moral ini merupakan bukti
komitmen mahasiswa unnes untuk bersama-sama mewujudkan kampus yang menerapkan
nilai-nilai moral sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Ada tiga poin penting
dalam konservasi moral ini, yaitu (1) Sholat awal waktu menjadi budaya religius
keluarga besar warga kampus pedoman yang pertama ini bagi mereka yang beragama
muslim; (2) Santun berbusana dan sehat pergaulan menjadi etika keluarga besar
warga kampus; dan (3) Peka dan peduli lingkungan menjadi komitmen keluarga
besar warga kampus dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ketiga poin diatas sangat berdampak
sekali dalam membentuk karakter warga kampus terutama untuk kalangan mahasiswa
sebagai generasi muda kebanggan Indonesia yang mempunyai peranan banyak di masa
kini dan masa mendatang. Dengan penerapan konservasi moral di lingkungan kampus
akan membantu mewujudkan generasi muda Indonesia yang berkarakter.
Penerapan konservasi moral ini akan
berdampak pula pada lulusan UNNES nanti yang memiliki intelektual tinggi,
berakhlak mulia, berkarakter, dan tentunya tidak mudah patah semangat dalam
menghadapi berbagai tempaan yang datang menghadang. Hal inilah yang menjadi
harapan deklarasi konservasi moral ini, yakni ketika generasi muda Indonesia memiliki
pemahaman ilmu yang luas, berakhlak baik, berjiwa sosial tinggi, peka terhadap
situasi dan keadaan, berpinsip kuat, dan berwibawa yang pada akhirnya akan
menghasilkan generasi muda Indonesia yang berkarakter
Selain pendeklarasian konservasi
moral, salah satu pelaksanaan konservasi moral di UNNES adalah melalui mata
kuliah pendidikan moral dan filsafat moral yang diajarkan di Jurusan Politik
dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Guna membekali mahasiswanya agar tidak hanya sekedar menjadi lulusan yang
berintelektual tinggi saja namun juga bermoral. Selain mata kuliah pendidikan
moral dan filsafat moral, Prodi Pkn juga mendirikan Padepokan Karakter yang
dipelopori oleh dosen Pkn yaitu Prof. Dr. Maman Rachman, M.Sc.
Tidak hanya itu, mahasiswa Unnes
juga mendapat bekal moral dari para dosen yang senantiasa memberikan teladan
yang baik bagi para mahasiswa, agar mahasiswa tersebut menjadi orang yang
berkarakter, berprinsip teguh dan tidak berperlaku koruptif.
4.3.
Peran Mahasiswa Dalam Mengembangkan Konservasi Moral Di UNNES
4.3.1. Mengembangkan Karakter Konservasi
Memasuki
kehidupan global, tantangan bagi eksistensi mahasiswa sangatlah berbeda dengan
era sebelumnya. Kehidupan global yang menawarkan budaya-budaya hedonisme,
materialisme, kapitalisme, pragmatisme, akan dengan mudah mengikis ideologi
idealisme yang selama ini menjadi ruh bagi kehidupan mahasiswa, jika hal ini
tidak dilakukan maintening secara tepat.
Hal tersebut
di atas perlu memperoleh perhatian, oleh karena gejala-gejala mulai terkikisnya
idealisme mahasiswa sedikit banyak mulai tampak.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis di tahun 2011, memperoleh gambaran corak
mahasiswa, yang terbagi ke dalam lima kelompok. Pertama adalah kelompok
idealis konfrontatif, dimana mahasiwa tersebut aktif dalam perjuangannya
menentang kemapamanan melalui aksi demonstrasi. Kedua, kelompok
idealis realistis adalah mahasiwa yang memilih koperatif dalam perjuangannya
menentang kemapanan. Ketiga, kelompok oportunis adalah mahasiswa yang
cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa. Keempat adalah kelompok
profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah. Kelima adalah
kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup yang glamour dan menyukai
pesta. Yang menarik dari penelitian tersebut ditemukan bahwa kelompok
rekreatif memiliki populasi yang paling besar, yaitu mencapai angka 90%.
Hal ini lah
yang menjadikan perlunya kampus memiliki “nilai dasar”, yang dapat melakukan
maintening terhadap idealisme dan peran mahasiswa sepanjang zaman. Mahasiswa
harus disadarkan akan pentingnya memiliki dan meyakini terhadap sistem nilai
yang menjadi dasar landasan mereka dalam beraktifitas, meraih cita-cita masa
depan yang gemilang.
Konservasi,
pilihan nama yang melekat pada Universitas Negeri Semarang, memiliki kandungan
nilai yang sangat mendalam. Konservasi tidak hanya berkenaan dengan
kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik semata, terkait dengan relasi antara
manusia dengan alam, melainkan juga mencakupi tata nilai yang luas dan
universal. Dalam kajian bahasa, “Conservation” (con
berarti together dan servare berarti save)
memiliki arti upaya memelihara apa yang dipunyai secara bijaksana. Terdapat
tiga aktifitas di dalamnya yaitu protection, preservation, and sustainable
use
Dalam konteks
demikian, maka hak dan kewajiban menjadi penyangga utama sikap dan perilaku
manusia, yaitu bahwa apa yang kita peroleh haruslah seimbang dengan apa yang
kita berikan. Sudah tentu itu dalam makna yang seluas-luasnya. Keseimbangan
antara hak dan kewajiban itu tidak hanya pada hal-hal yang bersifat ekonomis
saja, akan tetapi dalam relasi antara manusia dengan alam sekitar. Menghirup
udara segar, menikmati kesejukan pepohonan, menikmati kicauan burung nan
menawan; merupakan hak yang kita peroleh dari alam semesta. Oleh karena itu
sebagai imbangannya adalah kita harus memelihara, melindungi, dan
melestarikannya.
Ada empat
nilai utama dalam konservasi yang hendak ditanamkan pada para mahasiswa ;
yaitu jujur, cerdas, peduli, dan tangguh. Inilah nilai-nilai yang sangat
indah. Ketika kejujuran, kecerdasan, kepedulian, dan tangguh terejawantahkan
dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa melalui relasi dengan alam semesta;
dengan pepohonan, burung-burung, air, udara, dan sudah tentu dengan sesama
manusia; maka akan terinternalisasikan nilai-nilai itu pada mereka sebagai
sebuah moral knowing, moral feeling, dan moral action. Melalui
proses internalisasi nilai-nilai konservasi itu diharapkan pada
gilirannya akan tumbuh berkembang nafas-nafas spiritualitas. Mereka tidak
sekedar mencintai dan bertanggung jawab terhadap alam semesta, melainankan juga
melakukannya terhadap penciptanya; pencipta alam semesta.
Meminjam
terminologi dari Schopenhauer, kecintaan dan kepedulian ini disebut dengan
compassion, yaitu cinta kasih, empati, dan simpati. Cinta kasih ini,
menurutnya tidak hanya berdimensikan profane belaka, tetapi juga
berspiritkan sakralitas. Schopenhauer menyebutnya sebagai all encompassing
oneness, yang merupakan jati diri yang sejati manusia.
Pada tataran
ini Schopenhauer sudah menunjuk pada kesadaran metafisis, bahwa kecintaan dan
kepedulian terhadap lingkungan sekitar didasari oleh adanya “amanah ilahiyah”.
Orang yang sudah sampai pada tingkatan ini, melakukan upaya pemeliharaan, perlindungan,
dan pelestarian adalah karena adanya perintah Tuhan untuk itu. Kesadaran pada
tingkat inilah yang kemudian melahirkan berbagai ragam nilai kemanusiaan yang
universal.
Collective
consciousness atas nilai konservasi pada para mahasiswa ini harus dirawat
sedemikian rupa agar berkembang secara sempurna. Jika pun kelak mereka lulus
sebagai sarjana, akan menjadilah mereka sebagai kader-kader konservasi yang
handal, dan siap mengabdikan diri pada bangsa melalui nilai-nilai konservasi
yang mereka yakini. Pembinaan collective consciousness, haruslah
merupakan upaya yang komprehensif, dengan multy approach.
Meminjam analisis moral dari Kurtines (2004), ada tiga pendekatan pembinaan
yaitu Cognitive Moral Development, Affective Moral Development, dan
Behavior Moral Development .
Pertama,
perlu dilakukan upaya perubahan struktur kognisi terlebih dahulu agar para
mahasiswa memahami akan arti pentingnya nilai-nilai konservasi. Menurut
pendekatan Cognitive Moral Development, dengan diketahuinya arti
penting nilai-nilai konservasi oleh para mahasiswa, diharapkan akan tumbuh
kesadaran dan kesiapan untuk menerima tata nilai tersebut menjadi miliknya
sendiri (internalisasi nilai). Kesadaran dan internalisasi nilai yang berawal
dari pemahaman akan tata nilai tersebut (struktur kognisi) akan memiliki
kekuatan yang otentik, sebagai buah dari proses pembelajarannya (learned
behavior). Masuknya mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup pada struktur
kurikuler, sangat tepat untuk melakukan pembinaan collective consciousness atas
nilai konservasi, pada kegiatan-kegiatan formal perkuliahan.
Selain upaya character
building melalui perubahan struktur kognisi, tidak kalah pentingnya adalah
melalui pendekatan intuisi. Pendekatan ini dilakukan dengan cara membawa
imajinasi dan suasana hati para mahasiswa pada heroisme tata nilai konservasi.
Hal inilah yang ditekankan oleh pendekatan Affective Moral Development, yaitu
menanamkan nilai melalui aras afektif, berupa sentuhan-sentuhan perasaan,
imajinasi, dan intuisi. Proses pembinaan afektif ini membutuhkan strategi
tersendiri yang berbeda dengan proses-proses pembinaan kognitif. Para pimpinan
dan para dosen dituntut untuk mempunyai kepiawaian dalam mengelola strategi
pendekatan yang dilakukannya. Metode-metode out bond, games,
perkuliahan di luar kelas, dan sejenisnya merupakan aplikasi dari pendekatan
ini.
Selanjutnya
pendekatan Behavior Moral Development memandang bahwa internalisasi
nilai dilakukan melalui pembiasaan (conditioning/habituation).
Kendatipun pendekatan ini berawal mula dari percobaan yang dilakukan oleh Ivan
Pavlov pada seekor binatang, akan tetapi pendekatan ini sangat relevan
dengan upaya penanaman nilai. Seorang mahasiswa yang dibiasakan tertib dan
berperilaku baik dalam kehidupan sehari-harinya, pada akhirnya akan terbiasa
melakukan hal-hal tersebut. Pada gilirannya nanti kebiasaan-kebiasaan yang
dilakukannya tersebut akan mengendap menjadi tata nilai milik dirinya
sendiri. Manakala mereka melakukan suatu tindakan di luar kebiasaannya, mereka
akan merasa bersalah.
Ketiga
pendekatan pembinaan nilai tersebut akan memiliki efektifitas tinggi ketika
dilakukan secara simultan. Artinya pembinaan karakter (character building) dilakukan
secara komprehensif, meliputi pengubahan struktur kognisi, sentuhan-sentuhan
emosional, dan penciptaan lingkungan yang kondusif.
Melalui
dialog-dialog dengan para mahasiswa, baik dalam pertemuan formal maupun
informal pada umumnya mereka mengaku merasa bangga dengan universitas
konservasi. Kebanggaan yang diutarakan para mahasiswa ini merupakan salah satu
indikator kuatnya collective consciousness mengenai konservasi di
kalangan mereka.
Keberadaan
universitas “konservasi” pun merupakan ikhtiar mencari solusi dari persoalan
carut marutnya kondisi lingkungan di sekitar kita, baik lingkungan fisik,
sosial, maupun budaya. Isu lingkungan fisik misalnya, menjadi
keprihatinan semua orang khususnya adalah para mahasiswa.
Memberdayakan
Unit Kegiatan Mahasiswa
UNNES
memiliki unit-unit pelayanan mahasiswa yang diberdayakan guna pengembangan
karakter konservasi mahasiswa. Pemberdayaannya dilakukan melalui pembinaan dan
pengembangan penalaran, minat, bakat, seni, dan kesejahteraan. Untuk memenuhi
pelayanan dalam membina dan mengembangkan mahasiswa, Unnes memfasilitasi
melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pada tahun 2013 terdapat 54 jumlah UKM
yang diklasifikasikan ke dalam 4 bidang yaitu: UKM bidang penalaran dan
keilmuan, UKM bidang minat , bakat, dan kemampuan, UKM bidang
kesejahteraan, serta UKM bidang kepedulian sosial.
Bidang
penalaran dan keilmuanbertujuan menanamkan sikap ilmiah, merangsang daya kreasi
dan inovasi, meningkatkan kemampuan meneliti dan menulis karya ilmiah,
pemahaman profesi, dan kerjasama dalam tim, baik pada perguruan tingginya
maupun antar perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri. Sedangkan bidang
bakat, minat, dan kemampuanbertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa
dalam manajemen praktis, berorganisasi, menumbuhkan aspirasi terhadap olahraga
dan seni, kepramukaan, belanegara, cinta alam, jurnalistik, dan bakti sosial.
Bidang kesejahtaraan memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan fisik,
mental, dan kerochanian mahasiswa. Kegiatan ini dapat berbentuk; beasiswa,
asrama mahasiswa, kantin mahasiswa, koperasi mahasiswa, poliklinik, dan
kegiatan lain yang sejenis. Terakhir bidang kepedulian Sosial, bertujuan untuk
meningkatkan pengabdian pada masyarakat, menanamkan rasa persatuan dan kesatuan
bangsa, menumbuhkan kecintaan kepada tanah air dan lingkungan, kesadaran
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang bermartabat.
Melalui
berbagai UKM yang tersedia inilah mahasiswa menyalurkan aktifitasnya,
mengembangkan potensi dirinya di luar jam-jam kuliah. Kegiatan disusun
bersama di antara mereka sendiri, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi, dan tindak lanjutnya. Pihak pimpinan baik di tingkat universitas,
fakultas maupun jurusan, mengarahkan seluruh kegiatan mereka dalam bentuk
garis-garis besar kebijakan, sebagai upaya pengembangan potensi mahasiswa
secara utuh, yang berlandaskan nilai-nilai konservasi.
Terdapat
empat nilai besar yang dijadikan dasar untuk membina para mahasiswa yaitu
jujur, cerdas, peduli, dan tangguh. Jujur merupakan nilai yang bersumberkan
pada hati nurani, cerdas merupakan refleksi dari pengembangan fikir, peduli
merupakan wahana untuk mengembangkan rasa, sedangkan tangguh mencerminkan
kesehatan yaitu mengembangkan kesehtan raga para mahasiswa. Sehingga dengan
keempat nilai besar tersebut, akan terjadi proses olah hati, olah fikir, olah
seni, dan olah raga secara seimbang, pada diri mahasiswa, guna mengembangkan
dirinya menjadi insan paripurna.
Jenis dan
jumlah UKMini dimungkinkan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan para
mahasiswa. Hal ini dikarenakan munculnya UKM-UKM merupakan fasilitasi UNNES
dalam merealisasi aspirasi dan kebutuhan mahasiswa guna mengaktualisasikan
karakter mahasiswa. Untuk mendukung Unit-unit layanan yang dimanfaatkan oleh
mahasiswa, disediakan anggaran dana, sarana dan prasarana, pembimbingan,
dan agenda kegiatan kemahasiswaan.
Agar tujuan
pembinaan dapat tercapai secara maksimal, pengelolaan kegiatan kemahasiswaan
mengedepankan prinsip kebersamaan, dengan mendasarkan diri pada lima prinsip
pembinaan , yaitu , shared vision, system thinking, personal mastery,
mental models , dan team learning
Shared
vision berarti adanya visi bersama yang dirumuskan dan difahami oleh semua
warga kampus. Unnes mengembangkan visi bersama, sebagai universitas
konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahteran. Visi ini
telah tersosialisasikan dengan baik pada seluruh warga Unnes, dari mulai unsur
pimpinan, dosen, mahasiswa, sampai karyawan biasa Selanjutnya System
thinking. Seluruh civitas akademica menyadari bersama bahwa Unnes
merupakan organisasi yang terdiri dari unit-unit kerja yang dalam
melakukan aktivitasnya mendasarkan pada sistem yang telah disepakati bersama.
Dengan demikian setiap unit kerja termasuk organisasi kemahasiswaan (ormawa)
aktivitasnya harus dilaksanakan atas dasar prinsip kebersamaan. Sedangkan personal
mastery (SDM yang berkualitas), mengandung makna bahwa setiap warga kampus
dituntut untuk memiliki kompetensi dan mengembangkan diri sesuai dengan
tuntutan tugas dan fungsinya. Mental models (model mental), berarti
prinsip keteladanan harus dikedepankan. Oleh karena itu sikap dan perilaku
serta cara berfikir setiap warga Unnes harus dapat menjadi teladan bagi yang
lain. Oleh karena itu setiap warga Unnes harus memiliki mental dan kepribadian
yang dapat diterima secara universal.
4.3.3 Mementingkan Diskusi Dibanding Demo Yang Bersifat Anarkhis
Kita ketahui bersama bahwa
pandangan buruk selalu disematkan masyarakat terhadap mahasiswa ketika sedang
berdemo atau berorasi, memang bahwa demo yang dilakukan mahasiswa kebanyakan
akan berujung pada anarkis dan pengrusakan fasilitas umum, tentunya itu sangat
merugikan bagi pemerintah maupun masyarakat sendiri maka dari itu Mahasiswa
sebagai kaum intelektual harus mengenal
diskusi sebagai ikhtiar keilmuan. Dalam tradisi Jawa diskusi kerap disinonimkan
dengan rembug. Konservasi, ke depan, harus ditopang dengan tradisi rembug yang
lebih baik. Tak sekadar jadi sarana bertukar gagasan, rembug efektif membangun
imajinasi ideal. Edmund Husserl, bapak fenomenologi asal Jerman, pernah
mengungkapkan salah satu ciri dasar akal budi manusia adalah kemampuannya untuk
berkembang melalui rembug.
Bagi Unnes, rembug adalah
keniscayaan. Karena, pertama, lembaga ini adalah lembaga publik. Pemegang
kekuasaan lembaga ini adalah bangsa Indonesia. Membangun komunikasi dengan
masyarakat adalah keharusan agar aspriasi mereka terserap dengan baik.
Menyerap, memilah, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dalam bentuk
kebijakan hanya bisa dilakukan memalui rembug.
Kedua, dunia pendidikan bergerak
sangat dinamis belakangan ini. Siapa pun merasa berhak bicara pendidikan karena
jangkauan bidang ini memang sangat luas. Gagasan-gagasan pun terus bermunculan,
baik di tingkat filsafat, konseptual, maupun praksis. Sebagai mitra masyarakat
dalam bidang pendidikan, Unnes juga dituntut dinamis. Rembug, sebagai jalan
dialogis mengatasi masalah, harus ditempuh untuk gagasan di bidang pendidikan
yang terus berkelindan.
Dalam percaturan pendidikan
Tanah Air, Unnes adalah tokoh utama. Ekspektasi publik akan terwujudnya
pendidikan berkualitas juga merupakan tanggung jawab Unnes. Sebagaimana
sepakbola, tak pernah ada pemain tunggal. Maka, untuk meraih kemenangan
diperlukan kerja sama. D sinilah Unnes akan membangun kemitraan sinergis secara
vertikal dan horizontal, dengan masyarakat, sesama lembaga pemerintah, juga
masyarakat internasional.
4.4
Analisis Data
Dari angket yang diberikan secara acak kepada 25
responden dari prodi pendidikan teknik elektro jurusan teknik elektro
universitas negeri semarang maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
1.
|
Apakah orang tua mu pernah memberikan nasehat?
|
Dari
pertanyaan diatas terdapat 25 responden
yang bersedia untuk mengisi angket ditemukan bahwa 13 orang menjawab sering, 7
orang menjawab selalu dan hanya 5 orang yang menjawab kadang-kadang. Pertanyaan
ini mengindikasikan apakah orang tua memantau moral anaknya dengan memberikan
nasihat yang baik.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
2.
|
Apakah
anda membantah/melawan ketika orangtua mu memberikan nasehat?
|
Pertanyaan
diatas mengindikasikan jika mahasiswa tersebut membantah nasihat baik yang
diberikan oleh kedua orang tuanya, pasti moral mahasiswa tersebut sangat lah
rendan dan orang tuanya saja memberikan nasehat diabaikan apalagi tenaga
pendidik dan kampus yang berusaha untuk mengajarkan moral pasti akan sangat
ditentang oleh mahasiswa tersebut. dari 25 responden tersebut 13 orang menjawab
kadang dan 12 orang menjawab tidak pernah.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
3.
|
Apakah lingkungan
sekitar mempengaruhi sikapmu?
|
Dari
pertanyaan diatas ke-25 responden, mayoritas memilih kadang yaitu sebanyak 20
reponden dan 4 responden menjawab selalu satu responden menjawab sering. Pada
pertanyaan ini mengindikasikan seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap
kepribadian dan moral mahasiswa, tentunya pengaruh lingkungan ini tidak semua
merupakan hal buruk, tetapi akan lebih bijak jika mahasiswa tidak hanya
menerima pengaruh lingkungan secara polos tetapi harus ada penyaring mana
pengaruh yang baik dan buruk bagi moral.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
4.
|
Apakah orang tua mu selalu
memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya?
|
Dari
pertanyaan diatas sebanyak 24 responden menjawab selalu dan hanya 1 responden
yang menjawab tidak pernah, pertanyaan ini mengindikasikan seberapa besar peran
orang tua dalam memberikan conth yang baik bagi anak-anaknya tentunya hal
tersebut akan berpengaruh pada pengembangan moral.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
5.
|
Apakah kamu pernah melanggar
aturan yang sudah ditetapkan dirumah ataupun di kampus?
|
Dari
pertanyaan tersebut 20 responden menjawab kadang dan 5 responden menjawab tidak
pernah. Dari pertanyaan tersebut dapat kita ketahui bahwa sebagian besar
mahasiswa pernah melanggar peraturan yang telah ditetapkan di kampus atau
rumah, jika tidak dibenahi secara perlahan maka akan mengamcam pada moral dan
kepribadian.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
6.
|
Apa bila
dimarahi orangtua saya diam saja?
|
Dari
pertanyaan tersebut 13 responden menjawab kadang, 8 responden selalu dan 4 responen menjawab sering, hal
tersebut menunjukkan bahwa banyak mahasiswa terkadang tidak tahu cara
menghargai orang tua nya dan cenderung membantah ketika dimarahi.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
7.
|
Apakah
teman sebayamu mempengaruhi perilaku dalam kepribadianmu?
|
Dari
pertanyaan ditas diperoleh hasil 21 memilih kadang, 2 memilih tidak pernah dan
2 memilih sering, selama pengaruh yang ditimbulkan adalah positif maka
tidakperlu mengkhawatirkannya tetapi kita juga harus menjadi penyaring dari pengaruh tersebut.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
8.
|
Apakah kamu pernah melakukan kesalahan kepada temanmu dalam pergaulan sehari hari?
|
Dari
pertanyaan tersebut 24 responden menjawab kadang, 1 responden menjawab selalu,
berbuat kesalahan memang merupakan hal yang wajar terutama terhadap teman,
tetapi kita juga harus tau bahwa tak semua teman kita menerima kesalahan yang
kita perbuat dan tidak semua teman berani menegur ketika kita berbuat salah,
hal tersebut dapat berakibat buruk terhadap moral karena sertiap tindakannya
yang salah selalu dianggap benar oleh dia.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
9.
|
Dalam
menghadapi masalah apakah kamu melakukannya dengan perasaan emosi?
|
Dari
pertanyaan tersebut 20 responden menjawab kadang, 5 responden menjawab tidak pernah, dari hasil pengamatan kita tahu
bahwa mahasiswa sering kali menghadapi suatu masalah dengan emosi, tentunya hal
ini sangat merugikan karena emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
10.
|
Apakah
kamu selalu memberikan contoh yang baik kepada temanmu?
|
Dari
pertanyaan tersebut 21 responden menjawab kadang, 1 responden menjawab selalu
dan 3 responen menjawab sering, hal ini tentunya menjadi kaabr yang baik karena
secara tidak langsung teman akan mempengaruhi kepribadian kita.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
11.
|
Jika kamu salah
pernahkah kamu langsung meminta maaf?
|
Dari
pertanyaan tersebut 3 responden menjawab kadang, 19 responden selalu dan 3 responen menjawab sering, hal
ini merupakan tindakan yang sangat bagus untuk perkembangan moral karena
mengakui kesalahan yang kita pebuat.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
12.
|
Jika ada
tawaran dari teman mu apakah kamu ikut denganya walaupun itu buruk?
|
Dari
pertanyaan tersebut 13 responden menjawab kadang, 12 responden menjawab tidak
pernah, tentu hasil ini merupakan kabar yang buruk karena lebih dari separuh
orang terkadang menyetujui ajakan yang buruk dari temannya.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
13.
|
Apakah
anda belajar jika dirumah atau di kos ?
|
Dari
pertanyaan tersebut 7 responden menjawab kadang, 1 responden menjawab selalu
dan 17 responen menjawab sering, sebuah tindakan yang sangat bagus karena
hampir sebagian besar sering kali belajar saat dirumah atau kos.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
14.
|
Apakah
bila kebutuhan kamu terpenuhi, kamu merasakan kenyamanan?
|
Dari
pertanyaan tersebut 4 responden menjawab kadang, 18 responden menjawab selalu
dan 3 responen menjawab sering. Hal ini menggambarkan bahwa jika kebutuhan
mereka terpenuhi mereka akan merasa nyaman, dan tidak akan melakukan hal-hal
yang buruk yang dapat merusak moral.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
15.
|
Apakah
kamu pernah melakukan perbuatan anarkis (merusak atau menganiaya)?
|
Dari
pertanyaan tersebut 4 responden menjawab kadang, 21 responen menjawab tidak
pernah, hal ini merupakan kabar baik karena sebagian mahasiswa tidak pernah
melakukan penganiayaan atau kegiatan anarkhis, yang kita tahu perbuatan
tersebut sangat tidak bermoral
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
16.
|
Saya
bersikap sopan santun kepada orang yang usianya lebih tua dari saya?
|
Dari
pertanyaan tersebut 22 responden menjawab selalu, 3 responen menjawab sering,
dari data tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas mahasiswa masih tetap
manghormati dan menghargai orang yang lebih tua darinya.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
17.
|
Saya tidak
pernah menghiraukan, apabila ada orang yang menegur tentang sikap dan prilaku
saya?
|
Dari
pertanyaan tersebut 15 responden menjawab kadang, 5 responden menjawab selalu
dan 1 responen menjawab sering, 4 responden menjawab tidak pernah, tentunya
sikap ini harus diperbaiki teguran dari seseorang merupakan suatu motivasi
untuk memperbaiki diri.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
18.
|
Saya
menyapa apabila bertemu dengan dosen di kampus?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas menjawab selalu dan hanya ada 2 responden yang
menjawab kadang. tentunya sikap seperti ini hars tetap dijaga, dimana para
mahasiswa harus tetap menghormati dan menghargai dosen yang ada di kampus.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
19.
|
Apakah
kamu suka bersosialisasi dirumah,di kampus ataupun di masyarakat?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas menjawab selalu dan hanya ada beberapa orang yang
menjawab sering. Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan yang penting
karena melalui sosialisasi kita dapat belajar dan semakin mengembangkan moral
kita.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
20.
|
Apabila
ada masalah, saya pergi dari rumah tanpa pamit?
|
Dari
pertanyaan tersebut semuanya menjawab tidak pernah. Karena walaupun kita pergi
dari rumah tanpa pamit masalah tak akan selesai ,hadapi masalah dengan
kesabaran.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
21
|
Apakah
kamu Terlibat dalam pemerasan, pengancaman dan pencurian di lingkungan
kampus?
|
Dari
pertanyaan tersebut semuanya menjawab tidak pernah. kegiatan pemerasan,
pengancaman dan pencurian merupakan bukti bahwa seseorang moralnya telah
hancur.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
22
|
Apakah kamu Membuat
surat izin palsu untuk bolos kuliah?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas menjawab tidak pernah dan beberapa responden
menjwab kadang, tentunya kegiatan pemalsuan seperti ini merupakan tindakan yang
tidak bermoral karena kita telah membohongi orang demi kepentingan diri kita.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
23
|
Apakah
anda pernah Merusak fasilitas kampus ?
|
Dari
pertanyaan tersebut semua responden menjawab tidak pernah, sebenarnya kegiatan
merusak fasilitas kampus selain bukti bahwa ada moral kita yang tidak beres,
tentu saja merupakan sebuah perbuatan yang sia-sia karena jika fasilitas rusak
maka dana untuk memperbaikinya berasal dari mahasiswa.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
24
|
Apakah anda Berurusan dengan senjata tajam,
minuman keras dan narkoba di lingkungan kampus?
|
Dari
pertanyaan tersebut semua responden menjwab tidak pernah, hal ini merupakan
kabar baik karena kita tahu bahwa narkoba, sentaja tajam dan minuman keras
adalah barang yang dilarang beredar di kampus maupun di beberapa tempat, dan
apabila ada mahasiswa yang membawa barang barang tersebut sudah pasti moral nya
sudah hancur.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
25
|
Apakah anda tidak pernah menghiraukan,
apabila ada orang yang menegur tentang sikap dan prilaku anda
|
Ini
merupakan kesalahan cetak yang terjadi pada angket yang menyebabkan tedapat
soal yang sama.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
26
|
Apakah
anda menghargai apapun hasil karya orang lain..
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas responden menjawab selalu dan sering tetapi juga
ada 2 responden yang menjawab kadang. penghargaan terhadap karya seseorang
merupakan cara untuk menghargai kerja keras dan usaha dari yang menciptakan
karya tersebut.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
27
|
Apakah
anda sering membicarakan hal negatif dari dosen ataupun mahasiswa lain
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas menjawab kadang, tetpi ada 1 responden yang
menjawab sering dan 5 responden menjawab tidak pernah. Membicarakan hal negatif
dari seseorang merupakan tindakan pengecut karena orang tersebut hanya berani
membicarakan saat orang tersebut tidak ada dan ketika disuruh untuk mengkritik
mereka biasanya akan diam saja.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
28
|
Apakah
anda hanya copy paste apabila ada tugas ?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas responden menjawab kadang, dan hanya 3 orang yang
menjawab tidak pernah. Budaya copy paste ini sangat menjamur di kalangan
mahasiswa, hal ini dapat merusak citra mahasiswa sebagai orang yang kreatif dan
inovatif.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
29
|
Apakah
anda mengeluh jika diberikan tugas oleh dosen ?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas responden menjawab kadang, 5 responen menjawab
tidak pernah, tugas memang salah satu strategi seorang tenaga pendidik untuk
mahasiswa nya dapat belajar dan memahami materi, tapi terkadang banyak nya
tugas yang diberikan dan tingkat kesulitan yang tinggi menyebabkan mahasiswa
mengeluh tentang tugas. Jika mahasiswa terus saja mengeluh maka generasi muda
bangsa ini hanya dipenuhi oleh orang yang suka mengeluh.
No.
|
Pertanyaan
|
Pilihan
|
|||
SR
|
KD
|
SL
|
TP
|
||
30
|
Apakah
apabila dosen tidak masuk anda belajar mandiri di kelas ?
|
Dari
pertanyaan tersebut mayoritas menjawab kadang, 1 orang menjawab tidak pernah, 1
orang menjawab selalu dan 2 orang menjawab sering. Belajar memang merupakan
kegiatan utama bagi mahasiswa, tentunya mahasiswa tidak mau dibilang mempunyai
mental kuli yang hanya bekerja saat ada orang yang mengawasi nya, maka dari itu
belajar merupakan kegitan yang wajib dilakukan dengan atau tanpa tenaga
pendidik nya.
BAB V
KESIMPULAN
Konservasi moral adalah upaya untuk melindungi, memelihara dan memberdayakan
nsecara bijak yang berbasiskan nilai dan budaya luhur bangsa Indonesia, hal
tersebut dapat digunakan sebagai pedoman kehidupan. Penamanan nilai-nilai
konservasi moral dapat dilakukan di semua lembaga pendidikan dan masyarakat
secara langsung maupun tidak langsung.
UNNES sebagai salah satu kampus yang mendeklarasikan sebagai kampus
berbasis konservasi dn menetapkan 11 pilar konservasi, sudah seharusnya
mengimplementasikan nilai-nilai konservasi di lingkungan kampus. Tidak hanya
konservasi lingkungan saja melainkan moral tenaga pendidik maupun mahasiswa
perlu untuk di konservasi, supaya nilai-nilai luhur bangsa dapat terjaga.
Pelaksanaan konservasi moral di UNNES di pelopori oleh kalangan mahasiswa
yang tergabung dalam Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) yang menghasilkan sebuah
piagam konservasi moral. Tidak sampai disitu peran mahasiswa untuk mengembangkan
konservasi moral, para mahasiswa dibantu dengan dosen mendirikan padepokan karakter.
Selain itu kampus sebagai lembaga pendidikan
mengeluarkan beberapa kebijakan diantaranya dengan memasukkan mata kuliah yang dapat
mengembangkan moral mahasiswa diantaranya ada PKN, konservasi, pendidikan pancasila
dan pendidikan keagamaan.
Peran mahasiswa yang diharapkan lebih bisa membangun kampus berbasis konservasi
moral dapat dilakukan dengan cara mengembangkan karakter konservasi dalam diri sendiri
yang nantinya hal tersebut diharapkan akan menular ke mahasiswa yang lain, memberdayakan
UKM, UKM memang tempat mahasiswa untuk berkreasi dan menyalurkan hobinya tetapi
alangkah lebih baik jika UKM mempunyai peran untuk menumbuhkan konservasi moral
terhadap mahasiswa dan mengutamakan diskusi dibanding demo bersifat anarkis, stigma
masyarakat tentang mahasiswa jika berdemo selalu buruk, masyarakat menganggap mahasiswa
terlalu emosional dan terkadang tidak berfikir jernih. Maka dari itu perlu pendidikan
moral supaya setiap masalah dapat diselsaikan dengan diskusi.
DAFTAR
PUSTAKA
Kardiyem, 2013, “Internalisasi Pendidikan Karakter Dalam Akuntansi (Inspirasi) Diary” (Solusi Konservasi Moral). Vol 15, No.1, http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/ijc/article/view/2063htm, 25 Mei 2016.
Sugiyo,2012, Pengembangan, “Karakter Anak Melalui Konservasi Moral Sejak Dini”.Vol 1, No.1,http://journal.unnes.ac.id/artikel_nju/jda/2562, 25 Mei 2016.
Azizah, Nur,2006, “Perilaku Moral
dan Religiusitas Siswa Berlatar Belakang Pendidikan Umum dan Agama”. Vol 33,
No.2,http://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7078/5530,
27 Mei 2016.
Maduwita
Guswani, Aprius, Juni 2011, “Perilaku Agresi Pada Mahasiswa
Ditinjau dari Kematangan Emosi”. Vol 1, No.2, http://eprints.umk.ac.id/274/1/86_-_92.PDF , 27 Mei
2016.
Rachman, Maman,2012, “Konservasi Nilai dan Warisan Budaya”.
Vol. 1, No.1, http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/ijc/article/viewFile/2062/2176 , 28 Mei
2016.
Drs.Sumanto.M.A. , 1995 , Metodologi
Penelitian Sosial Dan Pendidikan , Yogyakarta : Andi Offset.
Sugiyono. 2009. Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Setiadi, A. Gunawan,
2010. Dialektika Hukum dan Moral dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Poespoprodjo, 1996. Filsafat
Moral Kesusilaan dalam Teori dan Praktek. Bandung: Remadja Karya.
Suyahmo. 2015. Filsafat Moral. Semarang: Universitas
Negeri Semarang..
Soegito, A.T., dkk. 2015. Pendidikan pancasila. Semarang :
UNNES PRESS.
Haricahyono, Cheppy. 1995. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral.
Semarang : IKIP Semarang Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar